Setelah baca, terserah kalau mau judge gue sebagai orang yang bisa masuk neraka atau harus ditobatkan. It's up to you to judge me, just as it's up to me to write this.
Background Story:
Sejak kecil gue ga pernah anggep sebuah agama itu adalah something yg penting. That's why -despite kita harus belajar cara berdoa - gue kurang ngerti kenapa di kurikulum sekolah harus ada pelajaran agama.
Tapi karena gue anggep keluarga gue cukup Pancasila secara di keluarga gue ada agama Buddha, Katolik, Kristen, dan Muslim, gue ga ambil pusing dan cukup berpedoman pada: "Semua agama itu baik. Asal yang menjalani juga punya hati baik."
But then, di SMP 3, gue mulai di-'abuse' sama temen sekelas (yang sialnya pada saat itu adalah gebetan gue) mengenai agama. Dia tanya kenapa gue ga ke gereja.. apa gue ga takut sama Tuhan.. dsb dsb. Dan karena gue naif, gue tanggepin pertanyaan dia dengan pertanyaan, "Kenapa emang?"
Di situlah kesalahan gue. Dan sejak hari itu, gue mulai menganggap agama itu berunsur politik.
Di SMU, again, gue menerima 'abuse' ini dan entah kebetulan atau apa, tapi yang mengabuse ini juga beragama sama dengan temen SMP gue itu. Semakin menjadilah pandangan negatif gue terhadap si satu agama ini.
Lain dengan agama yang satu lagi, yang kebetulan memang cuma satu keluarga nyokap doang yang beragama ini. Keluarga ini bener2 baiiikk banget menurut gue. Kk sepupu gue itu adalah orang paling lempeng di antara keluarga gue yang lain dimana kalo kita lagi mampir, pasti dianya selalu lagi 'ngadep Tuhan' sehari 5x. Jadi, gue menganggap bahwa agama ini baik.
'Abuse' inipun berlanjut ke masa kuliah gue di negara lain, banyak Mormons yang lumayan annoying dimana setiap minggunya pasti ada aja yang ngetuk pintu pagi2 buat tanya "Do you have time for God?" dimana selalu gue jawab dengan asal, "No." "Sorry, gotta go." "Sorry, need to catch the bus." "Sorry, I don't believe in God *totally salah, karena ternyata orangnya makin napsu ngejelasin*"
Karena itu, pandangan gue terhadap agama ini semakin negatif dan ternyata in the end, even agama sepupu gue yang dulu gue anggap baik itu punya ekstrimis juga.
Apalagi dengan banyaknya social media sekarang ini yang jelas2 menampilkan kefanatikan orang2 terhadap hal ini.
Story:
Weekend lalu, pas mampir di sebuah toko buku internasional di mall, gue ngeliet satu buku di bagian BEST SELLER. Judul buku ini menarik pandangan gue banget karena disitu tertulis:
"God is not great: How Religion Poisons Everything"
![]() |
| (Picture source: Amazon.com) |
Practically si pengarang ini
Beberapa quotes yang menarik di buku ini:
"The true believer cannot rest until the whole world bows the knee."
Para pemercaya sejati tidak dapat beristirahat sampai seluruh dunia bertekuk lutut.
"We do not believe in heaven or hell, yet no statistic will ever find that without these blandishments and threats we commit more crimes of greed or violence than the faithful."
Kami tidak percaya pada surga atau neraka, tapi tidak ada satupun statistik yang akan bisa membuktikan bahwa kita melakukan kejahatan keserakahan atau kekerasan lebih banyak dari umat beriman.
"Religion teaches people to be extremely self-centered and conceited. It assures them that god cares for them individually, and it claims that the cosmos was created with them specifically in mind."
Agama mengajarkan orang menjadi sangat egois dan sombong. Agama meyakinkan mereka bahwa Tuhan peduli mereka secara individu, dan mengklaim bahwa kosmos diciptakan untuk mereka secara khusus.
"One must state it plainly. Religion comes from the period of human prehistory where nobody--not even the mighty Democritus who concluded that all matter was made from atoms--had the smallest idea what was going on. It comes from the bawling and fearful infancy of our species, and is a babyish attempt to meet our inescapable demand for knowledge (as well as for comfort, reassurance, and other infantile needs)."
Seseorang harus menyatakan dengan jelas. Agama berasal dari masa prasejarah manusia di mana tidak ada yang - bahkan si hebat Democritus yang menyimpulkan bahwa semua materi terbuat dari atom - memiliki ide terkecil apa yang terjadi. Agama berasal dari tangisan dan rasa takut ketidaktahuan spesies kita, dan merupakan upaya kekanak-kanakan untuk memenuhi permintaan tak terhindarkan manusia untuk pengetahuan (serta untuk kenyamanan, kepastian, dan kebutuhan dasar lainnya).
and my favorite:
"Religion is not unlike racism. One version of it inspires and provokes the other."
Agama bukan tidak seperti rasisme (Agama = rasisme). Satu versi dari hal ini mengilhami dan memprovokasi yang lain.
Moral of the Story:
Inti dari bukunya sih sebenernya menyatakan bahwa sebenarnya agama itu tidak membuat orang berprilaku baik, bertindak baik, berpikir baik. Sebaliknya, agama justru membuat adanya alasan untuk membedakan orang.
Well, it does make sense though. Perang dari dulu banyak yang mengatasnamakan agama even sampai sekarang. Tidak bisa bilang mereka salah karena itulah yang diajarkan 'agama' ke mereka2 sehingga pandangannya pun seperti itu.
Selepas kuliah, pikiran gue lumayan kritis untuk hal2 seperti ini. Even kadang2 suka berdiskusi dan berargumen sama Fugun. Karena agama kita beda, gue pengen tau pandangan dia terhadap agamanya dan agama gue. Untungnya, Fugun -walaupun dulu ngaku religius- ternyata open minded terhadap diskusi soal agama.
Pertanyaan yang sering gue lontarkan adalah: Gimana manusia tercipta?
Dan banyak jawaban mengenai pasangan A&H yang cukup bikin banyak pertanyaan timbul. (Salah satunya: "Jadi anak2nya incest meh?")
Yah, at least mereka punya 'cerita' walaupun agak ga masuk akal menurut gue. Dibanding dengan agama gue yang pernah gue tanyain juga mengenai asal muasal manusia dan dijawabnya, "Dari pasir yang bergulung2 lama2 jadi tanah liat." *Excuse me, WHAT?*
Okay then, let's go with Darwin theory. Though, gue agak reluctant mengakui kalau nenek moyang manusia sejenis monyet, but hey... it makes more sense.
Kalau ngga, dinosaurus apa kabar?
*they've never existed, you say? Well, I agree to disagree.*
PS: Even John Lennon agrees with this book:
Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people living life in peace
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people living life in peace

I think religion gives hope. Ya kalo gak ada agama kita berharap kepada siapa? makanya byk org yg tobat pas udah tua dan udah mau ko'it. It is more like.. hm.. kenyamanan? because we believe in (maybe) life after death for example.. But eniway, we could never know lah yg mana yg bener n salah sampe kitanya ko'it :p
ReplyDeleteso, chicken or egg first?
hahaha ya, everyone with our own opinion lah ya boooww :D
Delete