Macet.. identik banget sama Jakarta, yang notabene sekarang nular ke kota-kota besar lainnya kaya Surabaya, Bandung...
Waktu lagi 'berburu' gambar kemacetan Jakarta yang makin menjadi-jadi (sebabnya apalagi kalo bukan hasil kerja dari 'hasil pilihan warga Jakarta'?) , gue ketemu beberapa situs dan komentar yang boong dan munafik abis. "Pada tahun 2010, Busway pasti akan menjadi jawaban dari kemacetan di Jakarta dan menjadi solusi untuk mengurangi kemacetan" WHAT THE?! helooooo... sekarang taon 2007, mobil2 pribadi makin banyak + jalur semakin berkurang karena diambil buat busway + jalan pada rusak karena dilewatin busway yg ngebut dan rem mendadak (karena berasa kalo dia itu ferrari) = MAKIN MACET! Jadi gimana caranya sih 3 taon lagi, itu busway bisa jadi solusi buat kemacetan Jakarta? halah.... gue yg bukan peramal pun bisa prediksi kalo itu cuma B*LLSH*T.



Dari rumah gue ke kantor bisa dibilang sangat dekat dalam ukuran jarak. Kalo jalanan lagi kosong, gue bisa sampe di kantor 5 menit dari rumah gue. Begitu ada pembangunan busway di Jalan Panjang (yg sekarang kayanya ditinggalkan begitu saja), gue menghabiskan waktu 45 menit di jalanan yang lurus doang itu (-_-") gue sangat bisa membayangkan kekinya orang-orang yang berangkat dari jem 6 pagi dan tetep telat sampe di kantor mereka karena harus menempuh jarak yang sebenernya ngga seberapa banget, cuma karena kedodolan orang-orang tertentu, waktu yang harus dihabiskan jadi berkali-kali lipat dari biasanya.Emang, ada yg merasa 'terbantu' dengan adanya busway ini. Tapi sebenernya itu semua salah. Kenapa mereka merasa terbantu? Karena mereka merasa ga perlu macet2an lagi dengan adanya busway. Sekarang, itu macet karena apa? Karena orang2 Indo yg ngga disiplin dan ditambah dengan busway itu sendiri.
Kalau mau bener, mendingan diadain pembersihan angkot-angkot. Ett.. gue ga bilang harus musnahkan mereka, karena obviously mereka juga cuma nyari nafkah, dan itu halal.. daripada jadi maling, ya kan? Tapi setidaknya dibikin peraturan buat angkot2 itu untuk berhenti hanya di halte aja, jadi... bangunlah halte-halte dengan space buat mobil biar ngga bikin mobil2 di belakangnya mandek. Peraturan...itu biasanya tetep aja dilanggar sama orang2. Gimana caranya biar disiplin? Sama kaya peraturan memakai safety-belt, mereka semua harus ditakutin dengan cara DENDA atau sekalian SITA mobilnya. Begitu tuh angkot2 disiplin, yg naek pun jadi disiplin, mereka jadi ngga sembarangan gawe-gawe atau minta turun di tengah jalan. Dengan gitu, bukannya jalanan bakal makin lancar? Susah? Emang.. sapa bilang gampang. Tapi bukan berarti ga bisa kan? Daripada bangun busway yang sangat jelas sekali sudah memperparah keadaan, mendingan kita mendisiplinkan orang2. Lebih murah dan jelas ga ada korupsi.
Maybe suatu saat, warga Jakarta bakal terbagi 2 antara "My way is Busway" atau aliran yg lagi gue ikutin sekarang "No way Busway." Terserah kalian lah, mau pilih yang mana...
Oh, gue baru-baru ini sering banget liet iklan soal pajak yang selalu diakhiri kata "Apa kata duniaa??" Kenapa orang-orang Indo pada kaga bayar pajak dan males bayar pajak itu gampang penyebabnya. Salah satunya adalah karena mereka sadar kalo uang hasil kerja keras mereka yg mereka setor ke pemerintah sebagai 'bayaran wajib' itu diakhiri dengan kerugian buat diri mereka sendiri.
- Pajak katanya buat membangun negara, boro-boro membangun....... bikin macet dan makin banjir iya.
- Pajak katanya buat menata kota, mana itu taman-taman yg ijo? Yg keletan cuma aspal keras yg berkali2 dicor buat dilewatin sama mobil 15 ton yg condong berwarna merah-orange itu.
- Pajak katanya buat mendidik negara, wajib belajar 9 taon emang masi berjalan gitu? Kayanya sering di berita dikasih liet sekolah-sekolah ga layak buat anak-anak kecil ga pernah dibetul2in.
- Pajak katanya buat kesejahteraan rakyat,....... seriously?!!! "Rakyat yg punya jabatan" kali maksudnyaaaa.
- Pajak katanya buat mendisiplinkan negara, NEGARA?? Blom sanggup kali, polisi2 aja dulu...... polisi kan tugasnya menilang pelanggar hukum, APA KATA DUNIA kalo polisinya yg melanggar hukum (siapa sih yg ga pernah liet polisi jalan di bahu jalan, balik arah, U-turn di jalan tol, ngelewatin garis waktu naik motor nungguin lampu merah... apalagi MALAK-dengan halus-)? Ironis banget ya......
- Pajak katanya buat membantu rakyat, really? Waktu Aceh kena tsunami, waktu Jogja kena gempa, waktu lumpur LAPINDO, waktu Jakarta banjir parah... apa semua korban dapet bantuan layak? Bantuan yg setingkat banyaknya dengan pajak yang kita bayar? Setau gue, dari 4 contoh itu... belom ada yg uda 'diberesin' tuntas sama pemerintah tercinta kita. Yang ada, sumbangan2 negara malah ilang entah ke mana..
Oh ya, kemaren ini gue iseng2 nanya orang.. gubernur kita yg pernah 'bener' as in 'memajukan pembangunan dan rakyat' semenjak Indo merdeka itu siapa sih? Entah mereka males mikir, ga tau jawabannya, atau emang ini bener.. mereka cuma jawab "Dari dulu juga ga ada yg bener" dan gue dengan refleknya nanya "Kalo gitu buat apa pemilihan gubernur? Buat apa kita milih orang buat ngerusakin kota? Apa karena calon-calonnya itu juga ga ada yang berkualitas jadi orang-orang asal milih 'yg mendingan' aja?" dan mereka diem tanda setuju. Indo itu aneh.....
Seru juga ngomongin Indo yang ga ada habisnya buat diprotes, mumpung bisa keluarin unek-unek :p Thanks btw buat blog orang2 yg gue 'pinjem' foto2nya, terutama dari detikforum.com.
Satu hal lagi tentang iklan pajak (yang mainly sekarang mengajak orang (yang berpenghasilan) untuk memiliki NPWP).. Sebenarnya sebagian besar orang pemerintah juga nggak punya NPWP.. Megawati aja baru punya NPWP setelah jadi presiden ;P Pejabat-pejabat itu yang tinggi-tinggi juga belom tentu punya NPWP semua..
ReplyDeletengak semua punya mobil kaya situ, emang nya semua orang ke kantor naek mobil ? kalo ngak punya mobil gimana ? jgn mikir nya egois donk, gimana kalo situ yang coba naek busway tinggalin mobil pribadi, apa masi macet ? susah si orang gedean, ngak perna mikir rakyat kecil...
ReplyDeleteloh, makanya gue bilang kan dididik itu para supir2 angkot. Kalo kendaraan umum di Indo bagus dan aman juga gue lebih enakan disetirin daripada bawa boil ndiri. Ngapain gue naek busway yg ketawan ngebut2an dan nyelakain orang juga?
ReplyDeleteGue kan tidak menghina2 busway secara direct, tapi lebih menghina government kita yg super duper dudul dalam menata kota (pasti kaga pada sekolah tuh dulunya, pada bolos wajib belajar 9 taon :p).
btw, ini gue tau banget yg ngasi komen kedua siapa :p
Busway itu sekarang hanya berfungsi sebagai pengganti angkutan umum seperti angkot dan bus umum, sedangkan jalanannya mengambil satu jalur sendiri yang mengganggu kelancaran lalu lintas semua mobil (termasuk kendaraan umum).
ReplyDeleteSebuah sistem kendaraan umum yang bagus itu harusnya memberi alternatif transportasi bukan mengurangi jalan yang apalagi memang sudah kurang.
Yang seharusnya dulu pemerintah mempelajari juga bagaimana consumer behavior kita. Kalau sedikit saja dipelajari pasti ditemukan bahwa orang-orang sini cenderung untuk lebih suka naik kendaraan pribadi daripada kendaraan umum. Itu adalah sesuatu yang harus diingat bukan dipaksakan untuk sebaliknya. Apa bukti dari sikap ini? Setelah adanya Busway penjualan motor dan mobil tetap meningkat dan jumlah kendaraan di jalanan juga terus meningkat, yang berarti orang-orang yang dulunya tidak punya kendaraan sama sekali begitu mendapat uang cukup kemudian membeli sebuah sepeda motor; orang-orang yang sudah punya motor dan penghasilannya bertambah kemudian membeli sebuah mobil begitu cukup penghasilannya.
Jalanan di Jakarta juga benar-benar kelihatan kurangnya (selain dari macet terus-menerus). Coba lihat di kota lain di dunia.. yang dekat aja, Singapura. Jumlah mobil di Singapura sekitar 400,000 sedangkan di Jakarta ada 1.4 juta mobil dan 3.2 juta sepeda motor. Total panjang jalan di Singapura: sekitar 3000km, di Jakarta: sekitar 5000km. Hanya 1.6 kali lipat lebih panjang untuk jumlah kendaraan yang begitu jauh lebih besar. Di Singapura yang namanya jalan utama itu 4 jalur per arah, 5 jalur per arah kalau jalan tol. Di Jakarta? Jalanan utamanya (Thamrin) 5.5 jalur tapi 1 jalur dipakai Busway, 1 jalur paling pinggir dipakai bus/ojek berhenti dan ngetem (dan ada setengah karena lebarnya tidak memadai untuk jadi 1 jalur). Jalan tol? Seingat saya satu-satunya jalan tol yang lebih dari 3 jalur cuma tol Cikampek untuk beberapa km awal, yang lainnya kebanyakan 2 jalur dengan beberapa ruas 3 jalur.
Sebagai perbandingan, coba kita bandingkan kapasitas angkut Busway melawan mobil pribadi.
ReplyDeleteDi jalan Thamrin rata-rata ada 3 mobil melewati satu titik per detik (ini benar-benar konservatif), berarti 5 menit ada 800 mobil. Satu mobil kan isinya harus 3 minimal karena 3-in-1.. ya kita hitung saja rata-rata 2 orang per mobil deh untuk menghitung jam-jam non-3-in-1. Jadi ada 1,600 orang lewat titik itu per 5 menit. Busway kan seharusnya datang tiap 5 menit sekali (yang totally nggak terjadi), kapasitas busnya 50 orang.. jadi tiap 5 menit Busway hanya bisa mengangkut 50 orang padahal yang lewat 1,600 orang. Andaikan semua orang mobil pribadi mau naik Busway, perlu nunggu berapa lama tuh? 1,600 orang kan perlu 32 bus; kalau bus datang tiap 5 menit berarti yang tidak beruntung perlu nunggu 160 menit = 2 jam 40 menit sampai diangkut.
Apalagi kalau rush hour, wah.. masa pergi/pulang kantor perlu nunggu kendaraan selama berjam-jam dulu.
Ups, salah hitung.. kalau tiap detik ada 3 mobil berarti tiap 5 menit ada 900 mobil bukan 800.. the rest hitung aja sendiri ya, tinggal makin lama aja nunggu busnya :p. My point is still the same.
ReplyDeleteWell said leecia
ReplyDelete